Bahaya Memahami “Wajah, Tangan, Kaki” Secara Fisik dalam Aqidah


Dalam sebagian penyampaian dakwah, lafaz seperti “wajah Allah”, “tangan Allah”, bahkan riwayat tentang “kaki” disampaikan seolah-olah itu anggota tubuh. Di sinilah letak bahaya besar dalam akidah.

Padahal prinsip paling tegas dalam Al-Qur'an adalah:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
(QS. الشورى: 11)

Ayat ini adalah fondasi: Allah tidak menyerupai makhluk, tidak berbentuk, tidak tersusun dari bagian-bagian.

Namun di sisi lain, memang ada lafaz seperti:

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ
“Tangan Allah di atas tangan mereka.”
(QS. الفتح: 10)

Dan:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
“Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya.”
(QS. القصص: 88)

Juga dalam hadits disebutkan:

حَتَّى يَضَعَ رَبُّ الْعِزَّةِ فِيهَا قَدَمَهُ
“Hingga Tuhan Yang Maha Mulia meletakkan ‘kaki’-Nya ke dalamnya (neraka).”
(HR. Bukhari & Muslim)

Di sinilah ujian akidah:

Apakah lafaz ini dipahami sebagai anggota tubuh?

Jika iya, maka terjadi beberapa kerusakan besar:

  1. Menyerupakan Allah dengan makhluk
    Karena “tangan”, “kaki”, “wajah” dalam bahasa manusia adalah organ.
  2. Menjadikan Allah tersusun dari bagian
    Padahal sesuatu yang tersusun:
  • punya batas
  • butuh bagian lain
  • tidak sempurna sebagai Tuhan
  1. Menyandarkan perubahan kepada Allah
    Seperti ungkapan “mengkerut saat menginjak neraka” → ini sifat makhluk, bukan Tuhan.
  2. Bertentangan dengan ayat lain:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.”
(QS. الإخلاص: 1)

Dan:

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
(QS. الإخلاص: 4)

Maka para ulama Ahlussunnah (Asy’ariyah dan Maturidiyah) mengambil jalan yang selamat:

  • Tafwidh → menyerahkan hakikat makna kepada Allah
  • Ta’wil → memaknai secara layak (misalnya “tangan” = kekuasaan)

Tujuannya satu:
👉 menjaga Allah dari gambaran fisik dan penyerupaan

Kesimpulannya:

✔️ Lafaz ada dalam nash
❗ Tapi tidak boleh dipahami sebagai anggota tubuh

Karena tauhid bukan hanya menetapkan teks,
tetapi juga mensucikan Allah dari segala bentuk makhluk.

Menjaga makna lebih penting daripada sekadar menyebut lafaz.

Dan di situlah aqidah tetap lurus, aman, dan selamat.

Komentar

Kabar Populer

“Puasa adalah perisai…” (HR. Bukhari dan Muslim) Perisai bukan hanya dari lapar, tapi dari api hawa nafsu.

Sayyidina Ali' Menikahi Ummul Banin Setelah Wafatnya Sayyidah Fathimah Az-zahra

Serangan Gabungan Militer AS Dan Israel Terhadap Iran Di Kecam Dunia

Qaswarah dalam Al-Qur’an: Ketika Manusia Lari dari Kebenaran Seperti Keledai dari Singa”

Fenomena Viral “Video Botol Teh Pucuk” yang Bikin Heboh Netizen

Belajar dari Sejarah: Persatuan Umat Lebih Besar dari Perbedaan Mazhab Dan Tragedi Karbala

Keteguhan Bangsa Iran Di Tengah Ujian Sejarah

Ketika Dunia Dipenuhi Kezaliman

Sejarah Makam Keramat Luar Batang Jakarta: Kisah Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus di Kampung Luar Batang, Koja

Karawang Berduka: Antara Dugaan, Emosi Massa, Dan Pentingnya Menegakkan Hukum Kasus Dugaan Pengeroyokan Terhadap Seorang Tokoh Agama Berinisial Ustadz FT Di Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang, Menjadi Perhatian Luas Publik. Peristiwa ini Tidak Hanya Menyisakan Luka Fisik Bagi Korban, Tetapi Juga Membuka Diskusi Besar Tentang Bagaimana Masyarakat Merespons Isu Sensitif, Khususnya Yang Berkaitan Dengan Moralitas Dan Hukum.