Puncak Malam Peringatan Haul Ke 30 Al Marhum Wal Magfurulahu Kyai Haji Qolyubi Bin Haji Langkawi

 


PUNCAK MALAM PERINGATAN HAUL KE-30

Wafatnya Guru Kami Bersama

Al-Maghfurlah Kiyai Haji Ahmad Qolyubi bin Haji Langkawi

Aula Pondok Pesantren Al Baqiyatussholichat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta'ālā, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, para sahabat, tabi'in, ulama, para wali Allah, hingga seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau sampai hari kiamat.

Pada malam yang penuh keberkahan ini, keluarga besar Pondok Pesantren Al Baqiyatussholichat menyelenggarakan Puncak Malam Peringatan Haul ke-30 wafatnya Guru kami tercinta, Al-Maghfurlah Kiyai Haji Ahmad Qolyubi bin Haji Langkawi. Kegiatan ini dihadiri oleh para masyayikh, keluarga besar pesantren, para santri, alumni, tokoh masyarakat, serta jamaah dari lingkungan sekitar sebagai bentuk penghormatan, kecintaan, dan doa kepada seorang ulama yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk agama, pendidikan, dan kemaslahatan umat.

Haul bukanlah sekadar mengenang hari wafat seseorang, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan, keteladanan akhlak, keluasan ilmu, dan keikhlasan dalam berdakwah. Seorang ulama boleh wafat secara jasad, namun ilmu, amal jariyah, dan doa murid-muridnya akan terus mengalir sebagai cahaya yang menerangi generasi berikutnya.

Rangkaian acara diisi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, tahlil, tahmid, dzikir, shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, pembacaan manaqib, tausiyah agama, serta doa bersama memohon agar Allah SWT melimpahkan rahmat, maghfirah, dan derajat yang tinggi kepada beliau serta memberikan keberkahan kepada seluruh kaum muslimin yang hadir.

Allah Subḥānahu wa Ta'ālā berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati."

(QS. Ali 'Imran: 185)

Firman Allah yang lain:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ

"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa: 'Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami'."

(QS. Al-Hasyr: 10)



Ayat ini menunjukkan bahwa mendoakan kaum mukmin yang telah wafat merupakan amalan yang diajarkan Al-Qur'an.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya."

(HR. Muslim No. 1631)

Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda:

اذْكُرُوا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ

"Sebutkanlah kebaikan-kebaikan orang yang telah meninggal di antara kalian."

(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Karena itu, mengenang jasa para ulama dengan menyebut perjuangan mereka, mengambil pelajaran dari kehidupan mereka, serta mendoakan mereka merupakan amalan yang memiliki dasar dalam syariat selama tidak disertai keyakinan atau praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah Al-Maghfurlah Kiyai Haji Ahmad Qolyubi bin Haji Langkawi, mengampuni segala khilaf beliau, melapangkan alam kuburnya, menjadikannya termasuk golongan hamba-hamba yang memperoleh rahmat-Nya, serta menempatkannya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.



Semoga Pondok Pesantren Al Baqiyatussholichat senantiasa menjadi pusat lahirnya generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, cinta Al-Qur'an, istiqamah dalam perjuangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, serta mampu melanjutkan estafet dakwah yang telah diwariskan oleh para ulama terdahulu.

Akhirnya, marilah kita memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an, bershalawat kepada Rasulullah ﷺ, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta memohon kepada Allah agar dipertemukan kembali di surga-Nya bersama Rasulullah ﷺ, para ulama, dan orang-orang saleh.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua kami, guru-guru kami, serta seluruh kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat."

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ



Komentar

Kabar Populer

“Puasa adalah perisai…” (HR. Bukhari dan Muslim) Perisai bukan hanya dari lapar, tapi dari api hawa nafsu.

Sayyidina Ali' Menikahi Ummul Banin Setelah Wafatnya Sayyidah Fathimah Az-zahra

Fenomena Viral “Video Botol Teh Pucuk” yang Bikin Heboh Netizen

Serangan Gabungan Militer AS Dan Israel Terhadap Iran Di Kecam Dunia

Qaswarah dalam Al-Qur’an: Ketika Manusia Lari dari Kebenaran Seperti Keledai dari Singa”

Belajar dari Sejarah: Persatuan Umat Lebih Besar dari Perbedaan Mazhab Dan Tragedi Karbala

Keteguhan Bangsa Iran Di Tengah Ujian Sejarah

Ketika Dunia Dipenuhi Kezaliman

Sejarah Makam Keramat Luar Batang Jakarta: Kisah Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus di Kampung Luar Batang, Koja

Karawang Berduka: Antara Dugaan, Emosi Massa, Dan Pentingnya Menegakkan Hukum Kasus Dugaan Pengeroyokan Terhadap Seorang Tokoh Agama Berinisial Ustadz FT Di Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang, Menjadi Perhatian Luas Publik. Peristiwa ini Tidak Hanya Menyisakan Luka Fisik Bagi Korban, Tetapi Juga Membuka Diskusi Besar Tentang Bagaimana Masyarakat Merespons Isu Sensitif, Khususnya Yang Berkaitan Dengan Moralitas Dan Hukum.