Syu'abul Iman ( Cabang -cabang Iman)



Pengertian Syu’abul Iman

Pengertian Iman

Pada dasarnya, setiap manusia dilahirkan dengan memiliki fitrah tentang keyakinan adanya zat yang Maha Kuasa. Keyakinan ini dalam istilah agama disebut dengan iman. Dalam hal ini manusia telah menyatakan keimanannya kepada Allah Swt. sejak masih berada di alam ruh. 

Sebagaimana yang tersebut dalam Surat al-A’raf ayat 172 berikut ini:

 Dan (ingatlah) Ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah Swt mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman) 

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” 

Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), 

kami bersaksi” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat tidak mengatakan, 

“sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini”.

Enam pilar iman itu antara lain adalah:

1. Iman kepada Allah Swt.

2. Meyakini adanya rasul-rasul utusan Allah 

Swt.

3. Mengimani keberadaan malaikat-malaikat 

Allah Swt.

4. Meyakini dan mengamalkan ajaran-ajaran 

suci dalam kitab-kitab-Nya.

5. Meyakini akan datangnya hari akhir.

6. Mempercayai qada dan qadar Allah Swt.

Pengertian Syu’abul Iman Menurut Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi dalam kitab Qamiuth-Thughyan ‘ala Manzhumati Syu’abu al-Iman, iman yang terdiri dari enam pilar seperti tersebut di atas, memiliki beberapa bagian (unsur) dan perilaku yang dapat menambah amal manusia jika dilakukan semuanya, namun juga dapat mengurangi amal manusia apabila ditinggalkannya.

 Terdapat 77 cabang iman, di mana setiap cabang merupakan amalan atau perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang yang mengaku beriman (mukmin). Tujuh puluh tujuh cabang itulah yang disebut dengan syu’abul iman. 

Bilamana 77 amalan tersebut dilakukan seluruhnya, maka telah sempurnalah imannya, namun apabila ada yang ditinggalkan, maka berkuranglah kesempurnaan imannya.

 Jika setiap muslim mampu menghayati dan 

mengamalkan tiap-tiap cabang iman yang berjumlah 77 tersebut, maka niscaya ia akan merasakan nikmat dan lezatnya mengimplementasikan hakikat iman dalam kehidupan.

Dalil Naqli Syu’abul Iman

Amalan-amalan yang merupakan cabang dari iman sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Hurairah RA:

 Dari Abu Hurairah ra.berkata, 

Rasulullah Saw bersabda: 


Iman itu 77 (tujuh puluh tujuh) lebih cabangnya, yang paling utama adalah mengucapkan; laa ilaha illallah.

 Dan yang paling kurang adalah menyingkirkan apa yang akan menghalangi orang di jalan, dan malu itu salah satu dari cabang iman.

 (HR. Muslim).

Sabda Rasulullah Saw. yang lain terkait dengan cabang-cabang iman adalah sebagai berikut: 

Dari Anas r.a., dari Nabi Saw. beliau bersabda,

Tiga hal yang barang siapa ia memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah Swt dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, 

mencintai (sesuatu) semata-mata karena Allah Swt. 

dan benci kepada kekufuran, sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka. 

(HR. Bukhari Muslim).


Macam-macam Syu’abul Iman

Terdapat beberapa ahli hadis yang menulis risalah mengenai syu’abul iman atau cabang-cabang iman. 

Di antara para ahli hadis tersebut adalah:

1. Imam Baihaqi RA yang menuliskan kitab Syu’bul Iman;

2. Abu Abdilah Halimi RA dalam kitab Fawaidul Minhaj;

3. Syeikh Abdul Jalil RA dalam kitab Syu’bul  Iman;

4. Imam Abu Hatim RA dalam kitab Washful Iman wa Syu’buhu

Para ahli hadis ini menjelaskan dan merangkum 77 cabang keimanan tersebut menjadi 3 kategori atau golongan berdasarkan pada hadis Ibnu Majah berikut ini:


 “Dari Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda:

 iman adalah tambatan hati, ucapan lisan dan perwujudan perbuatan”.

 (H.R. Ibnu Majah). 


Dengan kata lain, dimensi dari keimanan itu menyangkut tiga ranah yaitu:

1. Ma’rifatun bil qalbi yaitu meyakini dengan hati

2. Iqrarun bil lisan yaitu diucapkan dengan lisan

3. ‘Amalun bil arkan yaitu mengamalkannya dengan perbuatan anggota badan.

Dari pengelompokan berdasarkan dimensi keimanan tersebut, maka syu’abul iman dibagi menjadi tiga bagian yang meliputi:

a. Niat, akidah dan hati;

b. Lisan / ucapan;

c. Seluruh anggota badan;

Cabang-Cabang Iman

Cabang iman yang berkaitan dengan niat, aqidah dan hati

1. Iman kepada Allah Swt.

2. Iman kepada malaikat Allah Swt.

3. Iman kepada kitab-kitab Allah Swt.

4. Iman kepada rasul-rasul Allah Swt.

5. Iman kepada takdir baik dan takdir buruk 

Allah Swt.

6. Iman kepada hari akhir

7. Iman kepada kebangkitan setelah kematian.

8. Iman bahwa manusia akan dikumpulkan di Yaumul Mahsyar setelah hari kebangkitan

9. Iman bahwa orang mukmin akan tinggal di surga, dan orang kafir akan tinggal di neraka

10. Mencintai Allah Swt.

11. Mencintai dan membenci karena Allah Swt.

12. Mencintai Rasulullah Saw. dan yang memuliakannya

13. Ikhlas, tidak riya dan menjauhi sifat munafiq

14. Bertaubat, menyesal dan janji tidak akan mengulang suatu perbuatan dosa

15. Takut kepada Allah Swt.

16. Selalu mengharapkan rahmat Allah Swt.

17. Tidak berputus asa dari rahmat Allah Swt.

18. Syukur nikmat

19. Menunaikan amanah

20. Sabar

21. Tawadlu dan menghormati yang lebih tua

22. Kasih sayang termasuk mencintai anak-anak kecil

23. Rida dengan takdir Allah Swt.

24. Tawakkal

25. Meninggalkan sifat takabur dan menyombongkan diri

26. Tidak dengki dan iri hati

27. Rasa Malu

28. Tidak mudah marah

29. Tidak menipu, tidak suudzan dan tidak merencanakan keburukan kepada siapapun

30. Menanggalkan kecintaan kepada dunia, termasuk cinta harta dan Jabatan

Cabang Iman yang Berkaitan dengan Lisan

1. Membaca kalimat thayyibah (kalimat-kalimat yang baik)

2. Membaca kitab suci Al-Qur`an

3. Belajar dan menuntut ilmu

4. Mengajarkan ilmu kepada orang lain

5. Berdoa

6. Dzikir kepada Allah Swt. termasuk istighfar

7. Menghindari bacaan yang sia-sia

Cabang Iman yang Berhubungan dengan Perbuatan dan Anggota Badan

• Bersuci atau thaharah termasuk di dalamnya kesucian badan, pakaian dan tempat tinggal.

• Menegakkan shalat baik salat fardu, salat sunah maupun mengqadla salat

• Bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, membayar zakat fitrah dan zakat mal, memuliakan tamu serta membebaskan budak.

• Menjalankan puasa wajib dan sunah.

• Melaksanakan haji bagi yang mampu.

• Beri’tikaf di dalam masjid, termasuk di antaranya adalah mencari lailatul qadar

• Menjaga agama dan bersedia meninggalkan rumah untuk berhijrah beberapa waktu tertentu

• Menyempurnakan dan menunaikan nazar

• Menyempurnakan dan menunaikan sumpah

• Menyempurnakan dan menunaikan kafarat

• Menutup aurat ketika sedang salat maupun ketika tidak salat

• Melaksanakan kurban

• Mengurus perawatan jenazah

• Menunaikan dan membayar hutang

• Meluruskan muamalah dan menghindari riba

• Menjadi saksi yang adil dan tidak menutupi kebenaran

• Menikah untuk menghindarkan diri dari perbuatan keji dan haram

• Menunaikan hak keluarga, dan sanak kerabat, serta hak hamba sahaya

• Berbakti dan menunaikan hak orang tua

• Mendidik anak-anak dengan pola asuh dan pola didik yang baik

• Menjalin silaturahmi

• Taat dan patuh kepada orang tua atau yang dituakan dalam agama

• Menegakkan pemerintahan yang adil

• Mendukung seseorang yang bergerak dalam kebenaran

• Menaati hakim (pemerintah) dengan catatan tidak melanggar syariat

• Memperbaiki hubungan muamalah dengan sesama

• Menolong orang lain dalam kebaikan

• Amar ma’ruf nahi munkar

• Menegakkan hukum Islam

• Berjihad mempertahankan wilayah perbatasan

• Menunaikan amanah termasuk mengeluarkan 1/5 harta rampasan perang

• Memberi dan membayar hutang

• Memberikan hak-hak tetangga dan memuliakannya

• Mencari harta dengan cara yang halal

• Menyedekahkan harta, termasuk juga menghindari sifat boros dan kikir

• Memberi dan menjawab salam

• Mendoakan orang yang bersin

• Menghindari perbuatan yang merugikan dan menyusahkan orang lain

• Menghindari permainan dan senda gurau

• Menyingkirkan benda-benda yang mengganggu di jalan.

Tanda-Tanda Orang yang Beriman

1. Jika mendengar nama Allah Swt. disebut, maka bergetar hatinya, dan jika dibacakan ayat-ayat Al-Qur`an maka bergejolak hatinya untuk segera mengamalkannya.

2. Senantiasa bertawakal setelah bekerja keras dan berdoa kepada Allah Swt.

3. Selalu tertib dalam menegakkan dan menjalankan salatnya. Seorang mukmin, seberapa pun sibuk dengan aktivitas dan urusan duniawinya, ia akan senantiasa memprioritaskan ibadah dan salat untukmenjaga kualitas imannya.

4. Menafkahkan sebagian rezeki dan hartanya di jalan Allah Swt. Seorang mukmin memiliki keyakinan bahwa harta yang dinafkahkan di jalan Allah Swt. merupakan wujud implementasi keimanan untuk pemerataan ekonomi, agar tidak terjadi kesenjangan antara aghniya dan dhuafa.

5. Menghindari perkataan yang tidak berguna. Seorang mukmin akan selalu mempertimbangkan sesuatu sebelum mengucapkannya.

 Apabila ucapannya bermanfaat, maka akan ia lanjutkan perkataannya, namun apabila mendatangkan madlarat maka ia akan menghindarinya.

6. Memelihara amanah dan menepati janji Seorang mukmin, akan senantiasa memegang amanah dan menepati janji yang telah dibuatnya serta tidak akan berkhianat kepada siapapun yang mempercayainya.

7. Berjihad di jalan Allah Swt.

Problematika Ujian Orang Beriman

1. Mukmin yang saling mendengki

2. Kaum munafik yang membenci kaum mukmin

3. Orang kafir yang memerangi kaum mukmin

4. Tipu muslihat setan yang selalu menyesatkan

5. Godaan hawa nafsu dari dalam diri setiap Mukmin

Komentar

Kabar Populer

“Puasa adalah perisai…” (HR. Bukhari dan Muslim) Perisai bukan hanya dari lapar, tapi dari api hawa nafsu.

Sayyidina Ali' Menikahi Ummul Banin Setelah Wafatnya Sayyidah Fathimah Az-zahra

Serangan Gabungan Militer AS Dan Israel Terhadap Iran Di Kecam Dunia

Qaswarah dalam Al-Qur’an: Ketika Manusia Lari dari Kebenaran Seperti Keledai dari Singa”

Belajar dari Sejarah: Persatuan Umat Lebih Besar dari Perbedaan Mazhab Dan Tragedi Karbala

Keteguhan Bangsa Iran Di Tengah Ujian Sejarah

Fenomena Viral “Video Botol Teh Pucuk” yang Bikin Heboh Netizen

Ketika Dunia Dipenuhi Kezaliman

Sejarah Makam Keramat Luar Batang Jakarta: Kisah Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus di Kampung Luar Batang, Koja

Karawang Berduka: Antara Dugaan, Emosi Massa, Dan Pentingnya Menegakkan Hukum Kasus Dugaan Pengeroyokan Terhadap Seorang Tokoh Agama Berinisial Ustadz FT Di Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang, Menjadi Perhatian Luas Publik. Peristiwa ini Tidak Hanya Menyisakan Luka Fisik Bagi Korban, Tetapi Juga Membuka Diskusi Besar Tentang Bagaimana Masyarakat Merespons Isu Sensitif, Khususnya Yang Berkaitan Dengan Moralitas Dan Hukum.