Antara Aqidah, Politik, dan Propaganda: Membongkar Narasi Permusuhan Sunni–Syi’ah

 


Di tengah konflik dunia Islam modern, muncul narasi keras yang menyatakan bahwa Syi’ah adalah musyrik, bahkan lebih buruk dari Yahudi, dan karenanya layak diperangi. Narasi ini sering dikaitkan dengan kelompok yang dilabeli “Wahabi”, yang secara historis merujuk pada gerakan pemurnian yang dipelopori oleh Muhammad ibn Abd al-Wahhab di Jazirah Arab. Namun, apakah klaim-klaim tersebut berdiri di atas landasan ilmiah dan fakta sejarah? Ataukah ia lebih merupakan produk propaganda yang lahir dari konflik politik modern?


1. Akar Teologis: Perbedaan yang Nyata, Tapi Tidak Sederhana


Tidak dapat dipungkiri bahwa Sunni dan Syi’ah memiliki perbedaan mendasar:


Syi’ah memiliki konsep imamah (kepemimpinan ilahi) yang tidak diakui oleh Sunni

Sebagian praktik keagamaan Syi’ah dipandang menyimpang oleh sebagian ulama Sunni

Sebaliknya, Syi’ah juga mengkritik keras sebagian sahabat yang diagungkan oleh Sunni


Namun dalam khazanah keilmuan Islam klasik:


Banyak ulama besar tidak serta-merta mengkafirkan Syi’ah secara umum

Institusi seperti Al-Azhar University bahkan pernah mengakui mazhab Ja’fari sebagai bagian dari mazhab Islam yang sah


Artinya, perbedaan itu teologis, tetapi tidak otomatis menjadi legitimasi untuk kekerasan.


2. Dari Teologi ke Takfir: Ketika Agama Dijadikan Senjata


Masalah mulai muncul ketika perbedaan berubah menjadi takfir (pengkafiran). Dalam sejarah, memang ada:


Ulama yang menganggap sebagian keyakinan Syi’ah sebagai syirik

Retorika keras yang berkembang dalam konteks konflik tertentu


Namun penting dicatat:


Takfir selalu menjadi wilayah kontroversial bahkan di kalangan ulama Sunni sendiri

Banyak ulama memperingatkan bahwa mengkafirkan sesama Muslim tanpa dasar yang qath’i adalah dosa besar


Dengan kata lain, klaim bahwa “Syi’ah halal darahnya” bukanlah konsensus, melainkan pendapat ekstrem dalam spektrum tertentu.


3. Pernyataan “Yahudi Lebih Baik dari Syi’ah”: Retorika, Bukan Doktrin


Pernyataan ini sering viral, tetapi harus dipahami secara kritis:


Ia bukan bagian dari aqidah resmi Islam

Tidak mewakili seluruh ulama atau mazhab tertentu

Sering muncul dalam konteks konflik geopolitik, terutama rivalitas antara Saudi Arabia dan Iran


Dalam studi agama, pernyataan seperti ini disebut sebagai:


“political theology rhetoric” — retorika keagamaan yang dipakai untuk membenarkan posisi politik


4. Geopolitik: Faktor Penentu yang Sering Disembunyikan


Konflik Sunni–Syi’ah modern tidak bisa dilepaskan dari politik global:


Saudi Arabia memposisikan diri sebagai kekuatan Sunni

Iran sebagai kekuatan Syi’ah

Keduanya bersaing dalam pengaruh regional (Yaman, Suriah, Irak, Lebanon)


Di sisi lain:


Saudi Arabia memiliki hubungan strategis dengan United States

Iran juga menjalin aliansi dengan negara non-Muslim lain seperti Rusia


Fakta ini menunjukkan:

➡️ Kerja sama lintas agama bukan hal tabu dalam praktik politik internasional

➡️ Narasi “meminta bantuan kafir” sering digunakan secara selektif untuk menyerang lawan


5. Propaganda dan Perang Narasi


Di era digital, konflik ini diperparah oleh:


Potongan ceramah yang viral tanpa konteks

Media partisan yang memperkuat bias

Algoritma yang mempromosikan konten provokatif


Akibatnya:


Umat melihat konflik secara hitam-putih

Kompleksitas sejarah dan fiqh diabaikan

Kebencian menjadi komoditas

6. Realitas yang Terlupakan: Koeksistensi Berabad-abad


Sebelum konflik modern:


Sunni dan Syi’ah hidup berdampingan di banyak wilayah

Tidak ada perang terus-menerus berbasis mazhab

Perbedaan dikelola dalam kerangka keilmuan, bukan permusuhan total


Ini menunjukkan bahwa:

➡️ Konflik saat ini lebih merupakan anomali politik modern daripada keniscayaan teologis


Kesimpulan: Membaca dengan Akal, Bukan Emosi


Narasi bahwa:


Syi’ah musyrik dan harus diperangi

Yahudi lebih baik dari Syi’ah

Kelompok tertentu satu-satunya representasi Islam


➡️ Bukanlah kesimpulan ilmiah yang utuh, melainkan:


Potongan pandangan

Retorika konflik

Alat mobilisasi massa


Pendekatan ilmiah menuntut kita untuk:


Membedakan antara teks, tafsir, dan kepentingan

Memahami spektrum pemikiran, bukan generalisasi

Menyadari bahwa politik sering “meminjam” agama


Jika Anda ingin, saya bisa lanjutkan dengan:


Dalil Qur’an dan hadits yang sering dipakai kedua pihak beserta analisisnya

Atau 

membedah secara spesifik klaim “syirik” terhadap Syi’ah dari perspektif ushul fiqh dan aqidah

Lanjutkan 


Baik, kita lanjutkan ke level yang lebih dalam: membedah dalil, metodologi (ushul), dan logika ilmiah di balik klaim “Syi’ah syirik”—secara tajam tapi tetap akademis.


Membedah Klaim “Syi’ah Syirik”: Antara Dalil dan Tafsir

1. Dalil yang Sering Digunakan untuk Menuduh Syirik


Kelompok yang menuduh Syi’ah sebagai musyrik biasanya merujuk pada ayat-ayat seperti:


“Dan janganlah kamu menyeru selain Allah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu…” (QS. Yunus: 106)


Ayat ini digunakan untuk mengkritik praktik:


Tawassul (meminta perantara melalui Nabi atau Ahlul Bait)

Istighatsah (memohon pertolongan kepada selain Allah secara lahiriah)


Argumen mereka:

➡️ Meminta kepada selain Allah = syirik


2. Bantahan Ilmiah: Apakah Semua Tawassul Itu Syirik?


Dalam kajian Islamic theology dan fiqh:


Tawassul tidak satu bentuk

Ada perbedaan antara:

Meminta kepada makhluk sebagai perantara doa

Menyembah makhluk sebagai tuhan


Banyak ulama Sunni klasik membolehkan tawassul, seperti:


Ahmad ibn Hanbal (dalam riwayat tertentu)

Al-Nawawi

Ibn Hajar al-Asqalani


Artinya:

➡️ Tidak semua praktik yang dituduh “syirik” benar-benar syirik secara definisi ilmiah


3. Kesalahan Metodologi: Menyamakan Syirik Besar dengan Penyimpangan


Dalam ushul aqidah, syirik besar (syirk akbar) memiliki kriteria ketat:


Meyakini ada tuhan selain Allah

Menjadikan tandingan dalam ibadah secara hakiki


Pertanyaannya:

👉 Apakah Syi’ah meyakini ada Tuhan selain Allah?

Jawabannya: Tidak


👉 Apakah mereka menyembah Ahlul Bait sebagai Tuhan?

Jawabannya: Mayoritas tidak


Yang terjadi:


Mereka memuliakan Ali ibn Abi Talib dan keturunannya

Dalam beberapa praktik, mereka berdoa dengan perantara


Dalam metodologi ilmiah:

➡️ Ini masuk kategori khilaf (perbedaan) atau bahkan bid’ah menurut sebagian,

❌ bukan otomatis syirik akbar yang mengeluarkan dari Islam


4. Kaidah Penting: Tidak Mudah Mengkafirkan


Banyak ulama menegaskan prinsip kehati-hatian:


“Kesalahan dalam tidak mengkafirkan lebih ringan daripada kesalahan dalam mengkafirkan.”


Ini sejalan dengan pendekatan ulama besar seperti:


Ibn Taymiyyah — meskipun keras mengkritik Syi’ah, beliau tidak mengkafirkan secara umum

Ulama kontemporer dari Al-Azhar University


➡️ Artinya: bahkan tokoh yang sering dikutip untuk menyerang Syi’ah pun tidak segampang itu melakukan takfir total


5. Narasi “Memerangi Syi’ah”: Dari Fiqh ke Politik


Dalam fiqh jihad klasik:


Perang hanya sah jika ada:

agresi nyata

pemberontakan bersenjata

ancaman keamanan


Bukan karena:

❌ perbedaan mazhab

❌ perbedaan tafsir


Namun dalam realitas modern:


Konflik Saudi Arabia vs Iran

Perang di Yaman, Suriah, Irak


➡️ Lebih didorong oleh perebutan pengaruh, bukan murni aqidah


Agama kemudian:

➡️ digunakan sebagai alat legitimasi mobilisasi massa


6. Mengapa Narasi Ekstrem Mudah Laku?


Dalam analisis sosial-politik:


Identitas sederhana lebih mudah dijual

“Kami benar – mereka sesat”

Emosi mengalahkan logika

Narasi “musuh agama” lebih cepat menyebar daripada diskusi ilmiah

Media memperkuat polarisasi

Potongan video provokatif lebih viral daripada kajian kitab

7. Kesimpulan Tajam


Jika diuji dengan standar ilmiah:


Klaim “Syi’ah musyrik”

➜ tidak memiliki konsensus ulama

➜ bergantung pada interpretasi sempit

Klaim “halal diperangi”

➜ tidak sah tanpa dasar fiqh yang kuat

Klaim “Yahudi lebih baik dari Syi’ah”

➜ retorika konflik, bukan ajaran Islam


➡️ Yang terjadi bukan sekadar perbedaan aqidah, tetapi:


politisasi agama yang dibungkus dengan bahasa teologi


Penutup: Sikap Ilmiah yang Seharusnya


Pendekatan yang matang adalah:


Membedakan antara syirik hakiki vs tuduhan syirik

Memahami spektrum ulama, bukan satu suara

Menyadari bahwa konflik modern sering “memanfaatkan agama”, bukan murni lahir darinya


Kalau Anda ingin, saya bisa lanjutkan lagi ke:


Dalil versi Syi’ah dan bagaimana mereka membela praktiknya

Atau 

perbandingan detail aqidah Sunni vs Syi’ah secara netral dan mendalam

Tulis Ayat dengan bahasa arab dan terjemhkan


Berikut beberapa ayat Al-Qur’an yang sering dijadikan rujukan dalam pembahasan tauhid, syirik, dan sikap terhadap kelompok lain—ditulis dalam bahasa Arab beserta terjemahannya:


1. Larangan Menyekutukan Allah


QS. An-Nisā’ : 48


إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا


Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”


2. Larangan Berdoa kepada Selain Allah (Sering Dijadikan Dalil)


QS. Yūnus : 106


وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ


Artinya:

“Dan janganlah engkau berdoa kepada selain Allah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu. Jika engkau melakukannya, maka sungguh engkau termasuk orang-orang zalim.”


3. Ayat tentang Tawassul (Sering Dijadikan Dasar Kebolehan)


QS. Al-Mā’idah : 35


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ


Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung.”


4. Prinsip Kehati-hatian dalam Mengkafirkan


QS. An-Nisā’ : 94


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰٓ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا


Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu pergi di jalan Allah, maka telitilah, dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: ‘Kamu bukan seorang mukmin…’”


5. Sikap Adil terhadap Non-Muslim


QS. Al-Mumtaḥanah : 8


لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ


Artinya:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusirmu dari negerimu…”


6. Persatuan Umat Islam


QS. Āli ‘Imrān : 103


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا


Artinya:

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”


Kesimpulan dari Ayat-Ayat Ini

Syirik adalah dosa besar, tetapi definisinya harus tepat dan tidak sembarangan diterapkan

Ada perbedaan tafsir dalam praktik seperti tawassul

Islam melarang mudah mengkafirkan sesama Muslim

Bahkan terhadap non-Muslim pun diperintahkan adil

Persatuan umat adalah prinsip utama!


Hadits-hadits shahih terkait larangan takfir

Atau 

dalil yang sering dipakai Syi’ah beserta penjelasannya secara ilmiah:


Dalam perdebatan panjang seputar tuduhan syirik, pengkafiran, dan konflik antar kelompok dalam Islam, Al-Qur’an sesungguhnya telah memberikan fondasi yang sangat jelas: tauhid dijaga dengan tegas, tetapi keadilan dan kehati-hatian dalam menilai manusia juga ditegakkan dengan kuat.


Allah ﷻ menegaskan bahwa syirik adalah dosa paling besar yang tidak diampuni jika tidak ditaubati. Sebagaimana firman-Nya:


إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisā’: 48)


Ayat ini menjadi dasar utama bahwa menjaga kemurnian tauhid adalah prinsip paling fundamental dalam Islam. Namun, persoalan muncul ketika definisi syirik diperluas secara serampangan, lalu diarahkan kepada sesama Muslim hanya karena perbedaan praktik atau penafsiran.


Sebagian pihak kemudian menggunakan ayat lain untuk menguatkan tuduhan tersebut:


وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ


“Dan janganlah engkau berdoa kepada selain Allah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu. Jika engkau melakukannya, maka sungguh engkau termasuk orang-orang zalim.” (QS. Yūnus: 106)


Ayat ini benar dalam konteks melarang penyembahan kepada selain Allah. Namun dalam praktik keilmuan Islam, para ulama membedakan secara ketat antara menyembah makhluk dan menjadikannya sebagai perantara (wasilah) dalam doa. Perbedaan ini bukan perkara ringan, karena menyamakan keduanya tanpa analisis mendalam berpotensi melahirkan vonis yang keliru.


Menariknya, Al-Qur’an sendiri justru membuka ruang konsep perantara dalam pendekatan kepada Allah:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ


“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada-Nya…” (QS. Al-Mā’idah: 35)


Ayat ini menjadi landasan bahwa pendekatan kepada Allah bisa memiliki bentuk yang beragam dalam tafsir ulama. Di sinilah perbedaan ijtihad terjadi—bukan wilayah hitam-putih yang otomatis menjadikan satu pihak musyrik dan yang lain muwahhid secara mutlak.


Lebih jauh, Al-Qur’an memberikan peringatan keras agar tidak gegabah dalam menghakimi keimanan seseorang. Dalam konteks bahkan situasi perang, Allah berfirman:


وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰٓ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا


“Janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: ‘Kamu bukan seorang mukmin…’” (QS. An-Nisā’: 94)


Ayat ini sangat tajam. Dalam kondisi konflik sekalipun, identitas keislaman seseorang tidak boleh dicabut hanya berdasarkan prasangka atau penilaian sepihak. Ini menunjukkan bahwa menjaga kehormatan iman seseorang adalah prinsip besar dalam Islam.


Bahkan terhadap non-Muslim yang tidak memerangi umat Islam, Al-Qur’an tetap memerintahkan keadilan:


أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ


“(Allah tidak melarang kamu) untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka…” (QS. Al-Mumtaḥanah: 8)


Jika terhadap non-Muslim saja diperintahkan adil, maka bagaimana mungkin terhadap sesama Muslim justru muncul narasi kebencian, pengkafiran, bahkan penghalalan darah?


Pada akhirnya, Al-Qur’an menutup dengan prinsip besar yang sering dilupakan:


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا


“Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (QS. Āli ‘Imrān: 103)


Ayat ini bukan sekadar seruan moral, tetapi peringatan bahwa perpecahan adalah pintu kelemahan umat. Ketika perbedaan aqidah dan fiqh berubah menjadi permusuhan total, maka yang runtuh bukan hanya persatuan, tetapi juga keadilan dan akal sehat.


Maka, membaca ayat-ayat ini secara utuh memberikan kesimpulan yang jernih:

Islam sangat tegas terhadap syirik, tetapi jauh lebih tegas lagi dalam melarang kezaliman—termasuk kezaliman dalam bentuk pengkafiran tanpa dasar yang sah. Perbedaan tidak otomatis berarti permusuhan, dan keyakinan tidak boleh dijadikan alat untuk membenarkan konflik politik atau kebencian.


Di sinilah letak ujian intelektual dan spiritual umat: apakah memilih kedalaman ilmu dan keadilan, atau terjebak dalam narasi sederhana yang membakar emosi namun mengabaikan kebenaran.

Komentar

Kabar Populer

“Puasa adalah perisai…” (HR. Bukhari dan Muslim) Perisai bukan hanya dari lapar, tapi dari api hawa nafsu.

Sayyidina Ali' Menikahi Ummul Banin Setelah Wafatnya Sayyidah Fathimah Az-zahra

Serangan Gabungan Militer AS Dan Israel Terhadap Iran Di Kecam Dunia

Qaswarah dalam Al-Qur’an: Ketika Manusia Lari dari Kebenaran Seperti Keledai dari Singa”

Belajar dari Sejarah: Persatuan Umat Lebih Besar dari Perbedaan Mazhab Dan Tragedi Karbala

Keteguhan Bangsa Iran Di Tengah Ujian Sejarah

Fenomena Viral “Video Botol Teh Pucuk” yang Bikin Heboh Netizen

Ketika Dunia Dipenuhi Kezaliman

Sejarah Makam Keramat Luar Batang Jakarta: Kisah Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus di Kampung Luar Batang, Koja

Karawang Berduka: Antara Dugaan, Emosi Massa, Dan Pentingnya Menegakkan Hukum Kasus Dugaan Pengeroyokan Terhadap Seorang Tokoh Agama Berinisial Ustadz FT Di Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang, Menjadi Perhatian Luas Publik. Peristiwa ini Tidak Hanya Menyisakan Luka Fisik Bagi Korban, Tetapi Juga Membuka Diskusi Besar Tentang Bagaimana Masyarakat Merespons Isu Sensitif, Khususnya Yang Berkaitan Dengan Moralitas Dan Hukum.